Langsung ke konten utama

Nano nano my feelings (apasih…)



Kalian yang mungkin sedang membaca ini tahu atau mungkin pernah mendengar tentang keanekaragaman hayati?

Iya, aku tidak akan menceritakan hal itu… HAHAHA (prik prik prik…)

Pasti udah pada males buat lanjutin baca, lagian kaya ada yang bakal baca aja hueheee…

Ok. Seriusss woy…

Setelah segala keresahan, kegundahan, kesedihan, kelelahan, ketidak percaya dirian, banyaknya pikiran, dan segala macam perasaan…

AKHIRNYA…

Aku sampai dititik ini. Aku bisa SIDANG SKRIPSI dan LULUS.

I’m so grateful… Masya Allah Tabarakallah…

Ya, memang tidak tepat waktu, tapi aku berusaha meyakinkan diriku dengan bilang “gapapa, mungkin inilah waktu terbaik yang Allah kasih”

Kecewa dan penyesalan pasti dirasakan, tapi lebih dari itu aku ingin meminta maaf pada diriku sendiri, karena selalu menempatkanmu dalam suasana penuh tekanan, memaksamu untuk selalu kuat dan baik-baik saja. Capek karena degdegan dan overthingking, rasanya begitu berat ya (ku menangis….)

Dan

Terima kasih… terima kasih memilih untuk bertahan dan tidak menyerah, always self talk to give positive affirmation for yourself, Listi you are stronger than you think.

Kalau orang-orang mungkin ada yang skripsinya terhambat atau tidak ada progress karena ada kesibukan yang lain, tapi berbeda dengan diriku, aku ga ada kesibukan lain (pengangguran) di rumah selain bantu-bantu dikit, main sama ponakan dan ngurusin kucing-kucingku. Fase di mana progres skripsiku yang begitu lambat, alasannya ya karena aku sendiri yang terlalu overthingking, ragu sama diri sendiri buat melangkah, musuh terberatku ya diriku sendiri.

Bahkan, sampai ada momen dimana I feel like I lost myself. Listi yang di masa-masa sekolahnya tuh begitu semangat dan berambisi soal belajar dan mengejar apa yang diimpikannya dengan sungguh-sungguh, rasanya entah ke mana ia :”)

Sebenarnya sejak awal perkuliahan pun ini bukanlah hal yang benar-benar aku inginkan, dan mungkin karena itu aku menjalaninya setengah hati (walaupun seharusnya aku tidak seperti itu).

Tapi di suatu hari aku mendengar perkataan Ustad Adi Hidayat “…ingat Allah bukan memberikan apa yang kita inginkan, tapi apa yang kita butuhkan. Bisa jadi tempatmu saat ini mungkin memang bukan yang kamu inginkan, tapi bagi Allah itulah yang kamu butuhkan dan lebih bermaslahat untuk hidupmu

Lalu, ada momen di mana rasanya ingin menyerah saja…

Karena ini bukan lagi impian tapi terasa seperti beban.

Melihat satu per satu teman sudah menuntaskan skripsinya. I feel so empty

Aku turut berbahagia, tapi jujur tentu saja aku sedih karena saat itu tidak bisa merasakn hal yang sama, sedangkan aku masih harus berjuang. Bahkan ada fase dimana memutuskan untuk hiatus dari persosmedan dan ga mau sama sekali melihat updatean temen-temen haha.

Kemudian, mengingat bagaimana pengorbanan orang tuaku, juga diriku yang selama kuliah, aku berusaha menguatkan diriku sendiri dan bangkit. Ketika aktif kuliah pulang pergi hampir setiap hari. Bukan hanya mengorbankan soal materi tapi pikiran dan tenaga. Di kala yang lain udah bisa istirahat karena ngekos atau rumahnya dekat, aku masih dalam perjalanan, sampai rumah bahkan mungkin hanya dikasih jeda sejenak langsung berkutat dengan tugas-tugas esok hari. Aku berpikir, saat itu saja aku kuat dan menjalaninya sampai akhir, lalu kenapa diakhir ingin menyerah?

Overthingking memang rasanya jadi teman sejati di masa quarter life krisis in my life.

Di masa perskripsiannya ini saja, hal yang seringkali berkutat dalam pikiranku adalah soal bimbingan dengan dosen. Aku merasa mendapat dosen pembimbing dan pembahas yang luar biasa, hingga seringkali membuatku overthingking, ragu dan takut. Padahal mereka pun sebenarnya tidak menuntut yang gimana-gimana pada mahasiswanya. Sering aku bertanya sendiri “kenapa ya harus aku…, kenapa aku yang mendapat dosen-dosen tersebut? Kenapa harus aku yang ada diposisi ini?” dan segala keluh kesah lainnya.

Terkadang, jawabannya itu memang tidak kita dapatkan secara langsung. Proses yang akan menjawab keresahan itu, yang pada intinya Allah tahu yang terbaik dan kita sanggup melewati. Tapi, tetep aja sih aku pribadi kadang suka berpikir dan seperti merayu Allah “kalaupun dirasa sanggup, tolong jangan hamba lah Ya Allah”… kaya aneh tapi gimana ya jelasinnya ya begitulah… pernah ga merasa begitu?

Hingga kemudian masuk semester 12, dari awal tahun 2022 dengan asa yang selalu Allah tumbuhkan dalam diri ini, aku berusaha step by step melewati setiap proses dan rintangan. Hari berganti hari, dari minggu ke minggu, hingga bulan berganti bulan, dari berprogres sampai males lagi dan ga ada progress sama sekali, sampai di bulan Juni akhir semester tiba sudah sangat hopeless untuk bisa lulus semester ini. Melihat buku catatan dan surat-surat yang ku buat untuk diriku sendiri setiap bulannya, aku merenung dan berdoa. Aku memutuskan untuk memaksimalkan sisa waktu yang ada untuk berusaha dan benar-benar memasrahkan hasilnya pada Allah.

Dalam perjalanan itu, diwarnai banyak cerita yang membuat haru. The power of doa from my mom benar-benar menjadi kekuatanku bisa sampai tahap ini. Dalam perjalanan itu juga Allah berikan petunjuk dan hadirkan orang-orang baik yang membantu prosesku.

Alhamdulillah Ya Allah dengan ridho-MU terget hamba untuk Lulus di semester ini dan di bulan kelahiran hamba dapat terwujud.

Percayalah kekuatan doa itu sungguh ada.

When you hope from Allah alone, Allah will open beautiful doors for you, and honestly most of the time you could never imagine it happening.

Keep learning, keep trying your best, keep growing, keep praying..

Never give up! Allah has perfect timing.

Selamat untuk aku hehe… semoga apa yang dituliskan di sini menjadi pelajaran untuk diriku sendiri dan mungkin orang-orang yang tak sengaja dan menyempatkan waktunya untuk membaca. hal terpenting jadi selfreminder untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Aamiin…


Rabu, 22 Juni 2022
(Sidang Skripsi Listi Faujiah)
.LF.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

13in17 💙💖💎

  Holaheiyoooo.... Aku mau cerita lagiii... Walaupun tau yang baca cuma aku doang hehe... Udah lama banget mau nulis ini. Bercerita tentang mereka yang hingga detik ini mewarnai hari-hariku. Hadir dalam hidupku, layaknya seperti cahaya, menghadirkan canda, tawa, tangis, haru, bangga. Rasanya bertemu mereka menjadi salah satu alasan aku untuk bertahan ditengah kepelikan yang aku rasakan dalam hidupku. Setiap melihat mereka rasanya hidup ini baik-baik saja. Dan aku sangat bersyukur, Allah hadirkan mereka dalam cerita hidupku.  Mereka SEVENTEEN. Mereka bertiga belas yang bersatu dalam sebuah boygrup asal Korea Selatan. Yaellahh baku banget deh bahasanya haha. Okeyy biasa aja deh... Jadiii, ini bukan pertama kalinya sih jadi fangirl. Bukan baru tau banget juga tau seventeen. Gatau tepatnya kapan, aku mulai tau kayanya dari zaman lagu baksu, tapi ga sampe ngepoin mereka semua. Aku juga awalnya cuma tau Mingyu dan Seungkwan karena mereka suka muncul di beberapa variety show y...

Catatan akhir 2024

Dari tulisan-tulisan sebelumnya aku selalu menemukan diriku yg bilang "i feel like i lost my self" iyaaa... tau ga sih rasanya hidup tapi ngerasa kehilangan diri sendiri. Ngerasa tertinggal, ngerasa hampa, overthingking seperti udah jadi makanan sehari-hari diusia usia seperempat abad keatas atau quarter life crisis. Ga jarang masih suka bandingin diri sendiri sama pencapaian orang lain.  Tapi gapapa kan, perasaan-perasaan kaya gitu tuh wajar hadir dan dirasakan. Mungkin ada yang relate, mungkin ada yang ngga, karena proses setiap orang beda-beda. Pun dari perasaan-perasaan itu aku jadi banyak belajar untuk lebih mengenal diriku sendiri, menemukan diriku kembali, untuk merasa benar-benar hidup. Belajar untuk slow living aja, karena hidup setiap orang kan udah ada tracknya masing-masing ga sih hehe, jadi ga perlu diburu-buru, living in the moment, rasakan dan sadari sekecil apapun kebahagiaan yang hadir, rayakan sekecil apapun progres dalam hidup ini. Percaya bahwa setiap kita...